Kamis, 22 Oktober 2015

Karakter Pendidik Sukses Sesuai Tuntunan Nabi

Karakter para pendidik sukses
1.     Tenang dan tidak terburu-buru
Dalil:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asyaj bin Abdil Qais, “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua perkara yang dicintai Allah: tenang dan tidak terburu-buru.” (HR. Muslim)


2.      Lembut dan tidak kasar
Dalil:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan. Dia memberi atas kelembutan dan yang tidak Dia beri atas kekasaran dan lainnya.” (HR. Muslim)
Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak dikaruniai kelembutan, berarti dia tidak dikaruniai seluruh kebaikan.” (HR. Muslim)

3.      Hati yang penyayang
Dalil:
Diriwayatkan oleh A-Bazzar daru Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: “Sesungguhnya setiap pohon selalu memiliki buah. Buah hati adalah anak. Sesungguhnya Allah tidak menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga selain orang yang penyayang.” Kami katakan, “Wahai Rasulullah, setiap kita menyayangi?” Beliau menjawab, “Bukanlah yang dimaksud dengan kasih sayang adalah seseorang menyayangi temannya. Yang dimaksud dengan kasih sayang adlaah menyayangi seluruh umat manusia.”

4.      Memilih yang termudah selama bukan termasuk dosa
Dalil:
Dari ‘Aisyah radhiyalllahu ‘anha, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang termudah di antara keduanya selama bukan termasuk dosa. Apabila termasuk dosa, maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammarah untuk dirinya sendiri dalam masalah apapun kecuali spabila syariat Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah subhanahu wa ta’ala.” (Muttafaq ‘alaih)

5.      Toleransi
Adalah kemampuan  untuk memahami orang lain dalam bentuk yang optimal. Bukan dalam pandangan yang sempit, sehingga maknanya bukan kelemahan dan kehinaan. Tetapi maksudnya adalah memberi kemudahan sebagaimana yang diperbolehkan oleh syariat.
Dalil:
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah ak beritahukan kepada kalian tentang orang yang haram masuk neraka dan neraka haram atasnya? Setiap orang yang mudah, dekat dan toleransi.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

6.      Menjauhkan diri dari marah
Dalil:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang pemberani bukanlah orang yang pandai berkelahi. Orang yang pemberani adalah orang yang mampu menguasai diri ketika marah.” (Muttafaq ‘alaih)

7.      Seimbang dan proporsional
Dalil:
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin Umar Al-Badri radhiyallahu ‘anhu: “Seseorang datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku akan terlambat shalat Subuh karena si fulan yang menjadi imam kami memanjangkan shalatnya.” Belum pernah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dalam nasihatnya semarah hari itu. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari dari orang lain. Siapa saja di antara kalian yang menjadi imam, hendaknya dia memendekkan shalatnya, karena sesungguhnya yang berdiri di belakangnya adalah orang tua, anak kecil dan orang yang sedang memiliki keperluan.” (Muttafaq ‘alaih)
8.      Selingan dalam memberi nasihat
Banyak bicara seringkali tidak memberikan hasil apa-apa. Sebaliknya, memberikan nasihat yang baik dengan jarang justru seringkali menghasilkan sesuatu yang besar dengan izin Allah. Oleh karena itu Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu menasihati kepada murid-muridnya dengan mengatakan, “Janganlah engkau ungkapkan pemahaman agamamu kepada orang yang tidak menginginkannya.”
Dalil:
Dari Abu Wa’il Syaqiq bin Salamah, ia berkata: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berceramah kepada khalayak setiap hari Kamis. Seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman, aku suka apabila engkau berceramah setiap hari.” Dia menjawab, “Hal itu tidak mungkin aku lakukan. Aku tidak suka membuat kalian bosan. Sesungguhnya aku memberikan selingan nasihat kepada kalian seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan selingan nasihat kepada kami karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih)

***

(Sumber: Buku “PROPHETIC PARENTING”
Penulis: Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid
Bab I: Nasihat Cinta untuk Calon Orangtua, halaman 67-75)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar