Minggu, 07 Desember 2014

Pengaruh Tabiat Istri Terhadap Cara Suami Mencari Nafkah

Hasan Al-Bashri radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain.”

Dua tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu. Tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah. Lalu aku bertanya kepadanya.
“Bukankah engkau orang yang dulu pernah bersumpah denganku beberapa tahun lalu?”
Ia menjawab, “Ya benar.”
Aku bertanya lagi.
“Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji dagangan dan bersumpah.”
Ia pun bercerita.
“Dulu aku mempunyai istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata,
“Wahai suamiku, bertakwalah kepada Allah. Jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang halal. Jika engkau datang dengan sedikit rizki, aku akan menganggapnya banyak. Dan jika engkau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain).”
Maa syaa Allah…
Milikilah sifat qana’ah (suka menerima) yakni jiwa yang selalu merasa cukup.
Janganlah menjadi jurang dosa bagi suamimu. Wanita shalihah akan mendorong suaminya kepada kebaikan. Sedangkan wanita yang kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa.
Cukupkan diri dengan yang halal..
Ukuran rizki itu terletak pada keberkahannya. Bukan pada jumlahnya.
[Abu Bakr Ahmad bin Marwan bin Muhammad Ad-Dainuri Al-Qadhi Al-Maliki. “Al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/25)”. Penerbit: Jum’iyyah At-Tarbiyyah]
***
~aku kutip dari grup WhatsApp Muslimah.Or.Id doeloe, yang share Mba Uus~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar